Pesta Eurovision

100 kroner = 10 Euro (harga tiket masuk club)

6 Juni – 03:30 pm

eurovisionKami tiba di rumah di waktu yg sangat tepat. Mark, aslinya sich dari Finland, tapi lebih cendrung seperti orang Swiss karena kebiasaannya dalam hal tepat waktu. Dia datang jam 09:00, pas, benar-benar tepat waktu! Segera setelah dia tekan bel, kami buka pintunya. Dia membawa hadiah untuk acara selamatan apartemen baru saya. Mark sangat tinggi, tingginya hampir 2 meter dengan rambut pirang berjambul. Waktu kami berfoto bersama, saya harus jinjit supaya tidak kelihatan terlalu pendek disamping dia, padahal sayapun tidak pendek, tinggi saya 1.78cm (boleh lihat kartu identitas saya sebagai bukti lho).
Robyn, si Bohemian, datang sekitar lima belas menit setelah Mark. Dia datang dengan gaya santai memakai sandal jepit karena dia tinggal di gedung yang sama dengan saya, di seberang apartemen Fredrick. Rambutnya berwarna gelap, dia memiliki senyum yang renyah dan mata seperti orang Asia, sifatnya sama seperti saya; ini membuat kami cepat merasa nyaman dan langsung bisa berbincang mengenai perjalanan dan berbagai macam hal dalam hidup saya. Dia mengambil segelas anggur merah dan melihat-lihat sekeliling apartemen seperti Alice in Wonderland.
“Wow! Kamu baru tinggal disini dua hari dan tempat ini sudah kelihatan jauh lebih bagus daripada tempat saya yang jelas-jelas sudah saya tinggali selama dua bulan!”
Fredrick senyum, tapi tidak terkejut dengan komentar tersebut. Dia sudah pernah bilang ke saya bahwa Robyn tuh orangnya memang agak konyol.
Mark juga tinggal tidak jauh dari sini, cuma berbeda jalan. Mereka berdua kerja di sebuah restaurant ; Mark 03 giugnojadi manajer disana dan Robyn jadi pelayannya.
Setelah Fredrick minum bir beberapa kali dan Robyn dan saya hampir menghabiskan sebotol anggur, kami bersiap-siap untuk pesta. Saya memutuskan untuk memakai kaos singlet yang saya beli di Ibiza ; singletnya keren banget lho!
Fredrick memilih untuk naik taxi daripada menyetir mobil pribadi supaya dia bisa minum sepuasnya dan tidak akan kena resiko distop polisi di perjalanan pulang dari pesta karena mabuk. Dia duduk di samping supir taxi dan mulai ngobrol dengan si supir sementara saya duduk di belakang.

Kami tiba di sebuah club yang terletak di stasiun bawah tanah di Slussen. Tema pestanya adalah “Lagu-lagu Eurovision” karena Swedia memenangkan kontes Eurovision tahun ini dengan lagu “Euphoria” ; dan ya, malam itu benar-benar diisi dengan lagu-lagu Eurovision. Eurovision sangat popular di Swedia dan semua orang malam itu benar-benar menyanyikan lagu-lagunya. Sedangkan untuk saya, pertama kalinya saya menyaksikan Eurovision adalah tahun lalu saat mengunjungi teman di Prancis. Tahun ini, saat saya sedang di Roma, saya menontonnya dengan teman-teman dari Yunani. Di Italia sendiri, acara ini tidak terlalu populer, bahkan teman-teman saya banyak yang tidak tahu.

Saat di DJ memainkan lagu Euphoria, semua orang bersorak, mereka sangat menyukai lagu ini. Jujur, saya juga suka lagunya, tapi saya cuma pernah mendengar lagunya sekali dan tidak tau arti liriknya. Waktu mereka melihat saya tidak menyanyi speerti mereka, mereka langsung tau bahwa saya bukan orang Swedia. Fredrick suka lagu dari Cyprus yang berjudul “La La Love”. Lagunya bagus, cocok untuk musim panas dan ngedance. Saya suka “Stay”, lagu yang dibawakan oleh Norwegia dan Serbia, tapi lagunya tidak cocok untuk ngedance, lebih cocok untuk mengkhayal. Lagu ini intronya seperti lagi Coldplay, “Paradise”. Lagu Itali dari Nina Zilla cukup bagus, tapi saying ini bukan lagu disko, jelas saja tidak banyak orang yang bergoyang.

sigarettaDisana kami bertemu Georgiof, teman Fredrick yang sebelumnya sudah pernah saya temui di Gran Canaria ketika kami berlibur bersama. Kami berdua sangat senang bisa berjumpa lagi, berpelukan dan dia menanyakan kabar saya, lalu kami mulai ngedance sama seperti waktu kami di Gran Canaria. Sementara kami bersenang-senang dan berdansa, Fredrick mulai sedikit mabuk dan mengatakan bahwa dia mau pergi keluar club untuk merokok. Ketika dia kembali masuk kedalam club, dia bilang dia sudah mau pergi dari situ. Saya lihat jam masih 02:30 dan saya rasa ini masih terlalu cepat untuk pergi, maka saya menyarankan untuk tinggal sebentar lagi sampai jam 03:00. Dia bilang dia mau pindah ke tempat lain saja dan berjanji akan menjelaskan alasannya saat sudah di luar club.

Kami memanggil taxi dan akhirnya tiba di sebuah club, the Naglo. Tempat ini jauh lebih kecil dan isinya orang-orang yang sudah agak berumur, musiknya juga lagu-lagu tahun 60-an. Club ini tutup jam tiga pagi, jadi kami hanya punya waktu untuk minum sekali lalu pergi lagi. Dengan sedikit kesal saya tanyakan apa alasannya kami harus pergi dari tempat sebelumnya ke “lubang” ini. Dia mengatakan bahwa dia kenal hampir semua orang di club sebelumnya, tapi sayangnya petugas keamanannya orang baru dan tidak kenal dia. Si petugas keamanan melihat Fredrick sudah mulai mabuk dan tidak mengizinkan dia kembali masuk setelah ia keluar untuk merokok. Dia harus mengatakan pada si petugas itu bahwa dia datang bersama teman yang tidak punya telpon selular dan bukan berasal dari Stockholm, makanya dia harus masuk lagi ke dalam club untuk menjemputnya (yang tak lain adalah saya). Si petugas tidak mengizinkannya dan menghalangi dia untuk masuk, beruntung ada orang lain yang jauh lebih mabuk dan si petugas harus menanganinya, makanya Fredrick bisa mengambil kesempatan itu untuk kembali masuk ke dalam club. Saya katakana kepadanya, itu semua terjadi karena dia pergi keluar untuk merokok, kalau dia tidak keluar untuk sekedar merokok dan tetap ada di dalam club sebelumnya, dia tidak akan perlu menghadapi situasi semacam ini.

Satu lagi alasan mengapa saya benci ROKOK.

(a translation in Bahasa by Reina LAURENCE)