Pesta Film

DSC00289Di perjalanan terdapat perumahan kayu lama. Fredrick mengatakan bahwa dulu perumahan itu merupakan kayu sepenuhnya dan penduduknya sangat miskin sampai-sampai mereka tidak bisa membeli jendela, untuk itu mereka mengukirnya sendiri. Kami mendaki bukit dan kini perumahan lama itu, dengan penduduknya yang miskin, telah menjadi tujuan wisata turis dan “gaya miskin” nya menjadi pusat perhatian. Sebelum memasuki perumahan kami melihat papan, “Dimohon untuk tidak merokok”, dengan ukiran raksasa memegang asbak. Saya melihat Fredrick; ia tampak malu, memikirkan tentang disko.
Kami sampai rumah pada pukul 17.00, tepat sebelum makan malam. Ibunya menyambut kami, seperti biasa, dengan menggunakan sarung tangan dan memegang panci saus yang panas. Saya pergi sejenak ke kamar mandi dan ketika kembali, saya meminta maaf kepada keluarga itu karena ternyata mereka sudah siap di meja, menunggu saya. Fredrick menggoda saya untuk melakukan ringisan rusa kutub dan semuanya tertawa. Tak sengaja saya mengatakan, “sialan”!
Saya duduk, dengan wajah semerah paprika; mereka menanyakan apakah setelah memakan palt saya dsc00292_600x600_100kbmasih bisa makan lagi atau tidak. Perut saya besar dan saya mulai makan. Selama makan malam saya mempelajari beberapa kata-kata Swedia baru: “hungrid”, berarti “lapar”. Cukup mudah, karena hampir sama dengan Bahasa Inggris “hungry”. “Mätt” berarti “kenyang”, “Proppmätt” berarti “sangat kenyang” (tidak berguna untuk saya, karena sepertinya saya tidak akan pernah menggunakan kata ini), dan terakhir “PALKOMA” yang berarti memakan palt sebagai sumber koma yang terjadi. Saya mengartikannya dalam dialek Roma: CECAGNA[1]! (sebuah ungkapan Roma mengenai sebuah tidur yang diperlukan bagi seseorang karena lelah setelah makan). Ketika menterjemahkan kata itu, saya teringat pada Federica di Roma, seorang teman yang sangat saya rindukan karena ia sangat mengerti saya. Ketika berada di kelas Bahasa Perancis bersama, lebih kami bersenang-senang karena menerjemahkan ke bahasa Roma daripada Italia.
Untuk makan malam kami menyantap Regnbåge lax (pelangi—semacam salmon dari daerah setempat—dengan topping Västerbotte—lelehan keju—dan es krim Dajm—es krim vanila dengan taburan cokelat dan karamel. Di TV muncul iklan dari sebuah konser pada hari nasional, langsung dari Stockholm, di Skansen dimana sebuah konser bulanan diadakan untuk menghormati keluarga kerajaan Swedia. Setelah konser, Kikki dan Inger kembali ke vila kecil mereka di luar; kami mengucapkan selamat tinggal dengan pelukan yang erat, berjanji untuk menikmati tiramisu dan makan bersama di Stockholm pada hari Selasa. Saya berpamitan dengan orangtua Fredrick lalu kembali ke vila kami.
Program malam ini: pesta film dengan berondong jagung, wine dan bir!
charlies-angels-filmSaya bangga sekaligus tidak sabar untuk menikmati apa yang saya beli: seri lengkap Charlie’s Angels. Fredrick belum pernah menonton keduanya. Sementara saya sudah menontonnya sampai dua puluh kali. Saya suka sekali Cameron Diaz! Selagi saya memasukan film nya ke dalam komputer, Fredrick menyiapkan berondong jagungnya dan menyulut api. Film yang menyenangkan, jagung yang hangat, perapian di belakang kami, kursi lama saya, segelas wine… Dan ‘matahari’ malam sebagai latar belakang. Apa lagi yang kami butuhkan? Pesta film nya sangat berhasil!

Translated by Rifki Amin