Uppsala, Kembali ke Selatan!

dsc00326Saya bangun pukul 5 pagi. Fredrick sedang mandi, cukup memakan waktu untuk bercukur… Kurang lebih setengah jam… Saya memanfaatkan waktu untuk berada di dalam selimut lebih lama. Ketika tiba waktunya bagi saya, saya lalu mandi dengan cepat dan segera siap dalam waktu 5 menit. Kami meletakkan koper kami—semua hadiah dengan segala pernak-pernik untuk apartemen baru—ke dalam mobil mafia. Kami membawa setermos penuh kopi dan Kanelbulle hangat. Saya sangat berterima kasih kepada orangtua Fredrick atas keramahannya; kami siap untuk pergi lagi! Lagu-lagu Eurovision, seperti biasa, menemani kami selama perjalanan pulang dari liburan yang menakjubkan ini. Hari itu sangat luar biasa, matahari sudah menyengat pada pukul 7 pagi! FIKA, coffee break ala Umeå.

Kami melewati sebuah sirkus dan medekat untuk melihat unta-unta di lapangan. Saya mengaku pada Fredrick bahwa saya sebenarnya tidak menyukai sirkus dengan hewan-hewan karena saya mendengar hal-hal mengerikan soal itu. Menurut saya seharusnya hewan liar tetap berada di habitat asli mereka daripada dipaksa secara brutal untuk tinggal di sebuah tanah berpagar. Saya lebih suka sirkus semacam Cirque du Soleil dimana tidak ada hewan dan, sirkusnya berisikan talenta orang-orang. Fredrick setuju dengan mengedipkan matanya, lalu kami berkeliling kota menggunakan mobil. Ia mengatakan kepada saya bahwa beberapa dekade silam, api membumihanguskan seisi kota; hanya dua gedung yang selamat dari DSC00342kebakaran. Kebanyakan gedung dikonstruksi menggunakan kayu birch, sehingga kota itu dinamakan “Umeå Björkarnastad” (Kota Pepohonan Birch). Salah satu gedung yang selamat dari kebakaran, Skrinskavillan, dulunya merupakan vila milik seorang dokter dan sekarang digunakan untuk berbagai macam acara seperti pesta pribadi, pernikahan dan konser. Fredrick menyebutnya “Rumah Merah Jambu” karena warna eksteriornya dan juga karena setiap sebulan sekali diadakan pesta kaum gay.

Setelah melihat pengadilah banding dan balai kota, kami meninggalkan kota itu untuk kembali ke selatan. Kami melewati lagi Högankustenbro, jembatan tertinggi di Swedia, namun kali ini dengan langit yang lebih cerah; tempatnya nampak lebih tajam sehingga saya bisa melihat Högankustenpark, sebuah taman nasional di pantai utara.

yDi perjalanan kami melewati patung, Y, di Timrå. Senimannya, Bengt Lindström telah menciptakan titik yang berkenaan dengan api yang sangat indah bagi siapapun yang lewat. Nyatanya, itu merupakan “E 4” di pintu masuk bandara Midlanda. Sejenak saya terkagum oleh warnanya yang cerah—kuning, hijau, merah, biru dan putih—dan tingginya—sekitar 30.5 meter; permukaannya mencapai 800 meter persegi. Patung tersebut dikelilingi oleh monumen-monumen lain dan dapat dilihat bagi semua orang yang melewatinya. Huruf “Y” itu sendiri mewakili landmark yang penting, sebuah simbol Västernorrland; terlihat seperti raksasa, melebarkan tangannya ke langit dengan gembira, simbol kemenangan dan kebebasan, atau bisa diartikan sebagai pohon yang berkuasa, menyimbolkan masa depan positif untuk daerah Västernorrland. Saya membaca panduannya yang berbahasa Swedia bahwa patung tersebut diinagurasikan pada September 1995 dengan berat mencapai 700 ton.

DSC00426_600x600_100KBKami beristirahat di kami sudah setengah jalan. Kami berhenti untuk mengagumi kota menyenangkan yang merupakan kota terbesar ke-14 di Swedia. Kota ini merupakan ibukota dari Västernorrland dan berada di bawah teluk Bothnia, bagian utara laut Baltik: kami berada di tengah-tengah bagian utara dari Swedia. Masih sekitar 395 km menuju Stockholm.

Fredrick tidak henti-hentinya berbicara; ia mencekoki saya dengan berbagai informasi; sebenarnya sempurna untuk sebuah perjalanan dan ketika ada orang berbicara, itu memicu saya untuk ikut menimpali dan berbagi pendapat, namun setelah 4 jam, saya akhirnya merasa puas dan tertegun karena terlalu banyak berbicara! Bagaimanapun, Fredrick merupakan seorang rekan perjalanan yang hebat; kadang saya bercanda dengannya, memintanya untuk diam sejenak, namun kemudian saya tersenyum dan ia menyadari bahwa saya hanya bercanda.

DSC00427_600x600_100KBKami tiba di Uppsala sekitar pukul 5:30 sore; sebelum kembali ke pusat kota kami berhenti sejenak untuk makan malam di Max; sekarang sudah menjadi kebiasaan. Dengan Mats saya terbiasa pergi ke toko kue United, dengan Fredrick tentu saja Max. Saya ingat ketika berbincang dengan Inger, saya berkata padanya saya mencoba burger di Max dan saya menyukainya. Ia mengaku bahwa ia lebih menyukai makanan cepat saji Swedia lainnya yang bernama Sybille! Sejenak saya berpikir bahwa Sybille adalah restoran cepat saji untuk kaum lesbian, sementara Max untuk kaum gay! Saya membiarkan Fredrick memutuskan; ia memesan triple cheeseburger dengan kentang goreng, dan fried onions untuk bersama—saya tidak harus mencium siapapun—dan saus ekstra!

Translated by Rifki Amin