Obbola, Umeå : Rumah Bjorn dan Lena

dsc00052Kami sampai di Umeå pada pukul 15.30. Kami mengelilingi kota Umeå dengan menggunakan mobil. Di tengah perjalanan kami memutuskan berhenti sebentar untuk membeli bunga, tapi kami tidak dapat menemukan bunga yang ingin kami beli, akhirnya Fredrick memutuskan untuk membeli sekotak cokelat yang akan kami berikan untuk Lena. Pada perjalanan kami di Umeå, Fredrick menunjukan kepada saya Universitas-nya dan tempat dimana ia tinggal ketika menjadi mahasiswa di sana. Setelah itu, kami melewati Katedral dan balai kota yang letaknya di depan sebuah taman besar. Taman besar itu menghadap ke sebuah sungai dan banyak orang-orang yang datang untuk piknik.

Ketika kami menyeberangi sungai Umeå, awan mendung dan hujan mulai menggilang berganti dengan sinar matahari yang terang. Cahaya matahari mulai memantulkan sinarnya di sepanjang sungai Umeå. Fredrick memberitahukan kepada saya hal terbaik di kota ini, yaitu mengenai cuacanya yang entah mengapa hampir selalu cerah setiap saat.DSC00034

Daerah Obbola yang terletak di kotaC, terkenal dengan produksi kertasnya, dari seberang jembatan dekat pabrik kertas kita dapat melihat cerobong-cerobong asap yang mengeluarkan asap berbau busuk sebagai hasil limbah pabrik kertas. Saya juga bisa melihat rumah-rumah, bungalow-bungalow di sekitar pabrik yang terlihat mirip dengan perumahan tempat saya dibesarkan, di sana juga terlihat tiang-tiang kayu yang dengan bangganya mengibarkan bendera Swedia.

Kami melewati pepohonan birch dalam perjalanan kami ke rumah Bjorn. Kami di sambut dengan hangat oleh Bjorn yang sedang menggendong bayinya, Noel ketika kami tiba di rumahnya. Kami melepas sepatu kami terlebih dahulu sebelum memasuki rumah, hal ini telah dilakukan oleh semua orang di Swedia. Bjorn lalu mengajak kami berwisata mengelilingi rumahnya, sebelumnya rumah itu terlihat tampak kecil dari luar tapi sebenarnya rumah itu sangatlah besar. Rumah yang bisa disebut sebagai Villa itu adalah milik seorang artis pada era tahun 80-an yang saat ini telah tinggal di Los Angeles. Wisata rumah pun dimulai, mulai dari melihat kamar untuk anak-anak, kemudian kamar utama, kamar mandi, dan ruang keluarga. Ruang keluarganya sangatlah besar, terdapat televisi dan sofan yang terletak di belakang rak. Terdapat sebuah meja dilengkapi komputer di atasnya pada sisi ruang keluarga , lalu terdapat juga ruangan dapur. Ruang keluarga itu berbentuk melingkar dan berada tepat di sebelah kiri pintu masuk.

DSC00035Kami lalu pergi ke bagian bawah rumah, di bagian bawah rumah terdapat piano, bar dan aula. Aulanya diisi dengan televisi dan sofa-sofa yang nyaman, terdapat juga ruangan kecil yang dapat digunakan untuk enam orang. Saya membayangkan ketika berada di ruangan ini, suami dapat menonton bola sementara isterinya mengobrol dengan teman-temannya di bar. Berbelok ke sebelah kanan ruangan, terdapat kamar mandi, ruang perlengkapan, dan tempat untuk mencuci pakaian. Setelah mengajak kami melihat ruang bagian bawah, pada akhirnya Bjorn menunjukan kepada kami tempat dua kamar tamu. Kalian pikir wisata rumah ini telah selesai? Tentu saja tidak!

Kami masih melanjutkan wisata rumah dengan kembali ke ruang atas untuk melihat teras. Di ruangan ini semua dindingnya dipenuhi dengan kaca, di sana terdapat sebuah taman dan seekor anjing lengkap dengan mainannya yang berserakan di sana-sini. Anjing itu kemudian menghampiri kami, mengendus-ngendus sebentar lalu kembali pergi meninggalkan kami.

Sambil menunggu Lena pulang kerja, Bjorn menawarkan kami minuman. Segelas anggur untuk saya dan segelas bir untuk Fredrick, kemudian ia menyiapkan makanan untuk Noel. Selang beberapa waktu, Lena akhirnya tiba di rumah. Lena adalah seorang wanita yang memiliki mata berwarna biru, warna kulit yang terang dan rambut berwarna gelap. Bjorn juga memiliki mata berwarna biru, rambut cokelat dan bertubuh ramping hanya saja mata Bjorn tidak sebiru mata Lena. Anehnya, anak lelaki mereka, Noel memiliki mata dan rambut berwarna cokelat. Noel sedang duduk di kursi makan ukuran bayi sambil menghabiskan makanannya ketika Lena tiba, sesekali ia memanggil-manggil ayahnya untuk mendapatkan perhatian. Mereka mengatakan kepada kami bahwa Noel menderita alergi makanan kering, sehingga ia tidak bisa memakannya. Anjing yang kami lihat di beranda tadi menghampiri Lena yang baru saja datang. Anjing itu terus mengikuti kemana Lena pergi dan ketika kami mencoba untuk mengelusnya, ia malah menggonggongi kami.

Bjorn meminta kepada Lena untuk membakar barberkyu di taman. Kami makan malam pada pukul 18.30 di beranda rumah. Walau hari telah malam, tapi cahaya matahari masih saja terlihat bersinar seolah-olah hari masih siang. Sementara Bjorn masih menyiapkan daging bakar, Lena membawa sebuah nampan yang berisi sayuran panggang : paprika, zucchini, bawang merah, serta paprika yang diisi dengan keju dan Halumi.

Setelah kami selesai makan malam, Noel mulai menguap dan mengantuk sehingga Lena membawanya ke tempat tidur untuk menidurkannya. Setelah sepuluh menit, Lena kembali datang dengan membawa kopi dan makanan penutup, mousse cokelat dengan mint untuk kami.

Beranjak larut malam, saya mulai merasa lelah karena perjalanan. Jika melihat dari sinar matahari yang masih terang, saya bisa mengatakan bahwa saat ini masih pukul 17.00 bukannya pukul 23:00. Kami lalu berjalan-jalan sebentar untuk menurunkan makanan yang baru saya kami makan. Saya mengambil kesempatan itu untuk mengambil beberapa foto pelabuhan dan kota yang telah terlihat tenang.
Semua rumah yang ada di daerah ini berbentuk bungalow. Walaupun rumah-rumah itu terlihat banyak dan besar, pemandangan di daerah ini memberikan kesan kepada saya bahwa pemandangan itu tidaklah nyata, seperti sebuah desa yang benar-benar telah diciptakan untuk wisatawan.

Malam makin larut dan saya mulai mengantuk. Fredrick mulai menutup tirai jendela kamar, cahaya matahari masih saja terlihat seperti cahaya matahari di pagi hari padahal saat itu sudah tengah malam.

Translated by Hani Calista