Tersesat di London

280px-Brick_Lane_street_signsKata-kata yang terkenal akhir-akhir ini: Saya harus bangun pukul 11:00 agar bias pergi ke Brick Lane Gallery, lalu makan siang pukul 13:30 dengan seorang teman di Trafalgar Square tapi nyatanya, ketika saya bangun tidur dan melihat jam: Pukul 13:00! Sial!!

Untungya, saya belum sempat menggati zona waktu pada jam tersebut, jadi waktu itu sebenarnya masih siang, tapi tetap saja saya harus menunda kunjungan saya ke galeri di siang hari dan bergegas untuk dating tepat waktu di Trafalgar Square. Saya punya janji dengan Franco, seorang teman saya, berasal dari Italia utara, Bolzano, tapi ia sudah tinggal lama di Roma.

Kami seharusnya bertemu di Roma, ketika ia kembali, tetapi nasib berubah, jadi ketika saya memutuskan untuk pergi ke London lalu ke New York, ia memilih untuk menghabiskan satu minggu di ibukota Inggris. Akan sangat disayangkan jika kami tidak menyempatkan diri untuk bertemu. Dari Trafalgar Square kami pindah ke Soho, ke sebuah restoran kecil; murah, namun nyaman. Pelayan Asia yang mendatangi kami, sangat ramah. Secara teori, pelayan memang harus ramah. Saya juga sempat bekerja sebagai seorang pelayan, namun kenyataannya, ada beberapa pelayan yang songong, bahkan yang tidak peduli kepadamu. Kamu harus berhati-hati agar mereka tidak melempar peralatan memasak kue. Dalam kasus ini, seorang gadis Cina tadinya amat baik, penuh senyum dan akurat tanpa terlihat begitu cemas!

sohobooks

Saya memesan alpukat dengan saus vinaigrette, dengan dada ayam dan salad, meski saya juga mencuri beberapa kentang dari mangkuk Franco. Kami memulai pembicaraan, dengan berbincang mengenai pekerjaannya sekarang; ia bekerja untuk riset penyakit genetik. Ia melanjutkan dengan memberikan beberapa saran buku-buku yang harus dibaca. Saya suka membicarakan mengenai buku dan literature, dan saya akui dari perjalanan ini, sedikit susah berbicara mengenai buku karena ada penulis-penulis Italia atau bakan penulis internasional yang terkenal di Italia, namun tidak begitu terkenal di luar negeri. Saya senang dapat bertemu Franco namun sangat menyesal karena hanya sebentar, karena setelah itu saya ada janji dengan Giuseppe, seorang teman lain yang meninggalkan Roma dan Italia, untuk mencari keberuntungan di London.

iphone mapsKami berkumpul di Covent Garden, dan dari sana saya mengantarnya ke tempatnya bekerja. Setelah melihat-lihat, kami mencari Brick Lane Gallery. Dari apa yang saya temui di situs online, are “Brick Lane” merupakan tempat yang penuh restoran, kafe dan galeri; sebuah bagian kota yang artistik, yang kurang lebih dapat disamakan dengan area Pigneto di Roma. Jujur, selama tiga bulan menetap di London saya tidak pernah mendengarnya, namun sangat melegakan untuk mengetahui nya, apalagi karena Giuseppe sendiri tidak pernah mendengarnya sebelumnya.

Teknologi baru masih dapat menolong hidup kami. Ia mengambil iPhone dari sakunya dan kami menemukan dimana galeri tersebut berada; kami tahu jalannya dan akan tiba secepat kilat! Tentu saja, kamu bisa memiliki teknologi terbaru, namun jika tidak memiliki indera pengarah yang peka, atau kalau kamu tidak masuk sekolah ketika ada pelajaran apa itu kanan atau kiri… iPhone tidak akan berguna!

Kami tiba di daerah yang terlihat seperti Bronx: bangunan kumuh dan segerombolan orang India dan Arab; yang menunjuk-nunjuk tas kami, seolah-olah itu adalah bokong perempuan! Setelah putus asa mencari jalan ini, kami akhirnya malah bertanya, bukan menggunakan iPhone. Ketika mereka berhenti dan menjawab, selalu muncul ekspresi wajah kebingungan; seperti mereka tidak pernah mendengar nama tempat tersebut.

Tiba-tiba, Giuseppe melihat jam tangannya dan mengatakan bahwa saat itu sudah pukul 5:30 dan ia harus segera pergi bekerja, jadi ia mencoba menjelaskan jalan yang ditunjukkan iPhone. Setelah melewati beberapa lapangan basket dan taman-taman berisikan orang-orang yang sedang menggunakan obat-obatan, dari kejauhan saya melihat tulisan “Brick Lane”!

Translated by Rifki Amin